Time is More Valuable than Money

Sunday, 15 April 2018 0 komentar
Time is More Valuable than Money
Aldi Rahman Untoro




Yoris Sebastian seorang praktisi dan konsultan bidang kreatif yang memenangkan International Young Creative Entrepreneur of the Year Award 2006 dari British Council di London. Mendirikan OMG Consulting pada tahun 2007. Telah menulis beberapa buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama diantaranya, Oh My Goodness: Buku Pintar Seorang Creative Junkies, Keep Your Lights On! dan 101 Creative Notes.

Kenapa harus menunggu setengah jam untuk mengantri taksi, sementara telah ada aplikasi di smartphone yang memudahkan reservasinya. Dulu orang mengatakan waktu adalah uang, saat ini waktu jauh lebih berharga daripada uang. Uang yang hilang bisa dicari kembali, sementara waktu yang hilang tidak akan pernah bisa kembali. Bagaimana memanfaatkan waktu sehingga bisa melakukan hal yang lebih penting dan lebih menghasilkan?

Persoalannya terletak pada pemanfaatan waktu. Kita semua diberikan waktu yang sama oleh Tuhan, 24 jam sehari. Perbedaan antara kita dengan orang lain adalah seberapa efektif kita memanfaatkannya. Semakin kita menghargai waktu, maka kita akan semakin produktif. Kalau bisa bekerja lebih cepat, kenapa tidak? Kalau bisa membuat banyak inovasi dalam sehari, kenapa tidak? Semakin cepat kita bekerja, maka semakin banyak waktu tersisa untuk hal lain, untuk bersantai, untuk keluarga, untuk menyalurkan hobi, dan bahkan untuk menolong orang lain.

Efisiensi waktu seringkali ditentukan oleh pilihan moda transportasi yang akan kita gunakan. Dulu perlu 2 bulan untuk perjalanan haji, sekarang hanya dalam beberapa jam. Sebagai orang kreatif, kita tidur minimal 8 jam, 16 jam tersisa sebagai waktu untuk beraktivitas. Selain tidur, apalagi yang memakan banyak waktu sehari-hari? Perjalanan! Dengan semakin banyak terjadi kemacetan, maka kita perlu memanage agar 16 jam yang dimiliki tidak terbuang sia-sia.

Rata-rata masyarakat Jakarta menghabiskan 4-6 jam pulang pergi dari rumah ke tempat kerja. Tentu selain menyebabkan stres, kemacetan juga berdampak terhadap kesehatan fisik maupun mental. Terlalu lama di jalan selain menguras tenaga, emosi, merugikan negara - bahkan kerugian yang jumlahnya tidak sedikit, dan membuat kita menjadi kontra produktif.

Setidaknya ada empat prinsip yang harus dicapai oleh teknologi transportasi masa mendatang dalam memenuhi kebutuhan manusia: a.) Kecepatan, bagaimana menyediakan moda transportasi yang semakin cepat dari sisi waktu dan semakin hemat dari segi biaya, b.) Kapasitas, bagaimana mengoptimalkan moda transportasi agar mampu menopang jumlah penumpang dengan kapasitas yang lebih besar, c.) Fasilitas dan layanan, bagaimana melengkapi moda transportasi dengan fasilitas pelayanan yang lebih baik dan lebih nyaman untuk penumpang, d.) Integrated System, bagaimana membangun bandara, terminal dan pelabuhan dengan sistem transportasi, yang terintegrasi agar lebih efektif dan efisien.

Perkembangan teknologi transportasi ke depan akan ramah lingkungan, nyaman dan menghemat waktu. Perkembangan moda transportasi baik darat, laut, maupun udara telah menjadi lebih baik. Indonesia resmi menjadi bagian dari komunitas dunia transportasi cerdas (Intelligent Transportation System) sejak 2011. Dimasa mendatang kita berharap Indonesia mampu mewujudkan perpindahan penumpang dan barang tidak hanya lebih cepat, namun juga dengan tingkat keselamatan yang tinggi. Dua kuncinya, kecepatan dan kenyamanan.

Buku berjudul, “Time is More Valuable than Money” karya Yoris Sebastian ini begitu menarik dan unik. Di dalamnya terdapat informasi terbaru, terkait dengan transportasi. Tak jarang kita mengalami kemacetan yang menyita banyak waktu. Hal ini tentu membuat kita stres dan menjadi tak produktif. Membaca buku ini akan menyadarkan kita, betapa pentingnya memilih dan menggunakan transportasi, baik itu kereta, bus maupun pesawat, yang nyaman dan cepat. Penjelasan yang mudah dipahami, disertai gambar yang kreatif, menarik untuk dilihat.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan memberikan komentar menggunakan bahasa yang baku dan tanpa singkatan. Terima kasih atas perhatiannya, semoga sukses :)

 

©Copyright 2011 Aldi Rahman Untoro | TNB