Habibie: Totalitas Sang Teknosof

Sunday, 22 April 2018 0 komentar
Habibie: Totalitas Sang Teknosof
Aldi Rahman Untoro




Tahun 2010 Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie mendapat gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Filsafat Teknologi dari Universitas Indonesia. Beliau adalah seorang teknosof. Teknosof merupakan seseorang yang mendalami filsafat teknologi.

B. J. Habibie merupakan presiden ke-3 Republik Indonesia dari tanggal 21 Mei 1998 sampai 15 September 1999. Beliau telah menghasilkan 50 Undang-undang, 2 peraturan pemerintah pengganti undang-undang, 99 peraturan pemerintah, 232 keputusan presiden, 27 instruksi presiden. Total 400 peraturan atau 26 perbulan, sekitar 1,2 perbulan.

Penerapan maupun penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi erat hubungannya dalam hal pemberdayaan sumberdaya manusia, sehingga produktivitas manusia Indonesia mempunyai daya saing. Itulah sebenarnya yang menjadi tujuan utama, teknologi hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut.

“Jika umur kalian sekitar 20 tahun, kalian seumur dengan cucu saya, kalian bisa memanggil saya ‘Eyang’.” B. J. Habibie

Eyang Habibie berkeyakinan bahwa hidupnya dibimbing oleh lima prinsip dasar, yaitu bekerja sangat keras, bersikap rasional, bersikap jujur dan terbuka, bersikap rendah hati, dan jangan pernah menjadi pahlawan. Keyakinan dan prinsip yang dipegang dengan teguh oleh beliau.

“Saya pernah berkuasa, tetapi tidak pernah menganggap kekuasaan itu hak diri saya. Dititipi oleh siapa? Pertama oleh rakyat. Rakyat diilhami melalui sistem yang telah disepakati, akhirnya memberikan kekuasaan kepada orang yang bernama Bacharuddin Jusuf Habibie. Selama saya memegang jabatan itu, saya tidak merasa saya yang berkuasa.” Wawancara A. Makmur 2005

“Yang penting untuk dikejar sesungguhnya bukan teknologi itu sendiri, tetapi yang lebih penting dikejar adalah pembangunan sumberdaya manusia yang terampil dan tangguh yang mampu menguasai, mengendalikan dan mengembangkan teknologi itu sendiri ke arah yang lebih maju.” B. J. Habibie

Ada ungkapan mengatakan bahwa salah satu cara memahami pemikiran seseorang adalah dengan mengetahui kegemarannya. Maka kita perlu mengetahui kegemaran yang dilakukan oleh Eyang Habibie. Eyang Habibie senang sekali dengan kegiatan berenang, menonton film action seperti James Bond, Mission Impossible. Selain menonton film, beliau suka bernyanyi, suka musik keroncong, serta musik klasik seperti Mozart, Arthur Rubinstein. Beliau suka membaca buku, menulis puisi dan menyukai fotografi.

Beliau menyukai produk dalam negeri. Rasa nasionalisme beliau begitu tinggi. Karena itu beliau kembali Indonesia, meninggalkan Jerman. Beliau ingin sekali membangun Indonesia, dengan meningkatkan kualitas pemudanya. “Ini sepatu buatan mana? Kalau mau tahu, sepatu ini saya beli di Cibaduyut.” Jawab beliau ketika ditanya oleh salah satu stafnya.



“Manusia tanpa cita-cita, adalah mati.” B. J. Habibie

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan memberikan komentar menggunakan bahasa yang baku dan tanpa singkatan. Terima kasih atas perhatiannya, semoga sukses :)

 

©Copyright 2011 Aldi Rahman Untoro | TNB