Al-Faruq (Umar bin Khathab ra.)

Sunday, 29 April 2018 0 komentar
Al-Faruq (Umar bin Khathab ra.)
Aldi Rahman Untoro





Berbagai perang yang terjadi menimpa kaum muslimin, ketika mereka dihadapkan pada dua kekuatan besar, yaitu bangsa Persia dan Romawi. Keduanya merupakan dua negara paling berkuasa saat itu. Kekuatan yang besar tersebut tidak membuat kaum muslimin gentar. Tentu saja kecemasan tetap ada, tetapi mereka tetap mampu berpikir dan bertindak dengan tenang.

Perang Qadisiah melawan bangsa Persia, dengan pasukan yang hebat menggunakan gajah sebagai senjata. Jumlah mereka mencapai 200.000 orang. Sementara kaum muslimin hanya 30.000 orang dengan panglima Sa’ad bin Abi Waqqash Ra.

Kemudian ada perang Yarmuk melawan Romawi dengan jumlah pasukan mencapai 300.000 orang. Sedangkan kaum muslimin jumlahnya 40.000 orang, dipimpin oleh panglima Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Di garda kanan dipimpin oleh Muadz bin Jabal. Garda kiri oleh Hasyim bin Utbah. Pasukan infanteri dipimpin oleh Said bin Zaid, serta pasukan kavaleri dipimpin oleh Khalid bin Walid.

Pada penaklukan Alexandria, raja Romawi pernah berkata, “Jika bangsa Arab dapat menguasai Alexandria, maka hancurlah kekuasaan Romawi dan mereka akan binasa.” Karena disana terdapat banyak gereja mewah, kaum Romawi banyak yang menetap disana, setelah Syam ditaklukan.

Raja memutuskan memimpin sendiri peperangan, karena menurutnya ini hal yang sangat penting. “Dimana pertahanan Romawi setelah Alexandria?” Ketika raja dalam perjalanan, Allah membinasakannya. Allah melemahkan kekuatan Romawi dengan meninggalnya sang raja. Jika peperangan terjadi, tentu kaum muslimin akan menemui kesulitan besar, serta memerlukan bala bantuan yang besar. Namun Allah menyelamatkan kaum muslimin dari bencana tersebut. Allah mengambilnya nyawa Heraklius, ketika ia sedang berangkat menuju Alexandria. Sejumlah besar pasukan Romawi yang sedang menuju Alexandria pun kembali pulang ketika mengetahui hal ini.

Beragam kisah yang terjadi dalam berbagai peperangan, sarat dengan pembelajaran. Dimana cara berpikir, sikap, serta pendapat Umar Ra. menunjukkan jati diri Islam. Bahwa taat pada pemimpin, berarti taat pada perintah Allah. Pasukan yang baik, ialah yang mempunyai akhlak yang baik.

Ketegasan, kecerdasan, sikap dan perilakunya, menjadikan kaum muslimin bangga memilikinya sebagai pemimpin. Ia memilih orang yang tepat sebagai pemimpin di berbagai kota. Tidak mengherankan jika Islam dapat meluaskan pengaruhnya ke berbagai wilayah. Menarik membaca hal mengenai sejarah Islam, terutama bagi yang menyukai sejarah.

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan memberikan komentar menggunakan bahasa yang baku dan tanpa singkatan. Terima kasih atas perhatiannya, semoga sukses :)

 

©Copyright 2011 Aldi Rahman Untoro | TNB