Perpustakaan Untuk Rakyat : Dialog Anak dan Bapak

Sunday, 18 March 2018 0 komentar
Perpustakaan Untuk Rakyat : Dialog Anak dan Bapak karya Ratih Rahmawati (almh.) dan Blasius Sudarsono (Bapak Dokumentasi Indonesia)
Aldi Rahman Untoro




Apa itu perpustakaan? Apa perbedaan dan persamaannya dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) atau nama lainnya? Apakah tempat membaca dan meminjam buku sejenis dengan taman bacaan? Apakah mereka (masyarakat) juga sudah menjadikan perpustakaan sebagai bagian dari hidup kesehariannya? Apakah masyarakat paham mengenai pentingnya perpustakaan? Apakah masyarakat umum sudah mengenal kata “perpustakaan” seperti mereka mengenal kata “restoran”? Mengapa restoran? Sebab restoran dikenal masyarakat umum sebagai tempat makan. Sebenarnya perpustakaan dapat disebut sebagai tempat makan. Tentu bukan tempat makan untuk mengisi perut dan menikmati rasa dimulut, akan tetapi tempat makan untuk menikmati rasa dan mengisi rohani serta intelektual.

Apakah mereka mengunjungi perpustakaan sebagaimana mereka mengunjungi restoran? Mereka lebih memilih mengisi perut daripada mengisi pikiran dengan ilmu. Bagaimana perpustakaan dapat menyakinkan masyarakat untuk mencintai perpustakaan? Sebelum upaya membuat masyarakat mencintai perpustakaan, tentu pustakawanlah yang harus lebih dahulu mencintai perpustakaan.

Ada jurang pemisah yang sengaja dibuat antara perpustakaan dan TBM. Dimana TBM tidak mau menyebut dirinya sebagai perpustakaan. Dan perpustakaan enggan menyebut TBM sebagai perpustakaan. Nama perpustakaan untuk rakyat diadaptasi dari buku Sultan Hamengku Buwono IX berjudul, “Tahta untuk Rakyat”. Di Yogyakarta penuh dengan berbagai aktivitas masyarakat dalam membangun dan mengembangkan TBM. Pemerintah membangun perpustakaan umum sebagai upaya dalam menjaga agar masyarakat yang sudah melek huruf tetap terjamin aksesnya pada bahan bacaan. Meski terjadi kompetisi dan persaingan antara TBM dan perpustakaan umum. Di satu sisi pendapat dari pihak TBM bahwa perpustakaan itu terlalu kaku dan diskriminatif, sementara perpustakaan tidak menganggap bahwa TBM adalah perpustakaan. Sebenarnya tujuan TBM dan perpustakaan adalah sama, yaitu untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat.

“Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia, membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup dan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca.” Glenn Doman (1986)

D.A. Rinkes (1918 - 1926) merupakan pimpinan Balai Pustaka saat itu. Ambisinya sesuai dengan pemerintah kolonial yaitu memperluas pengaruh kekuasaan penjajah terhadap orang pribumi. Salah satunya melalui bacaan yang tersebar dalam masyarakat melalui taman pustaka yang dikembangkannya. Tak kurang dari 2500 taman pustaka dibangun. Perkembangan taman pustaka dimulai dari ide sederhana Rinkes, membangun taman pustaka di setiap sekolah yang baru berdiri, baik di desa maupun di kota. Gagasan tersebut berdampak terhadap luasnya penyebaran pengaruh barat tehadap masyarakat Indonesia melalui bacaan seperti novel terjemahan, terbitan berseri, almanak, ensiklopedia dan bacaan lainnya. Langkah Rinkes menanamkan nilai dan budaya barat melalui bacaan, sebenarnya disadari bahwa literasi informasi yang baik merupakan potensi yang dapat menghancurkan pemerintahan kolonial, sebab masyarakat lebih cerdas dan terbuka wawasannya. Tetapi Rinkes tetap menjalankan ambisinya. Walau akhirnya Belanda harus takluk dari Jepang beberapa saat kemudian.

Rencana TBM milik pemerintah dibuat sebagai proyek jangka pendek, tidak pernah dibuat menjadi pendukung program jangka panjang. Koleksinya difokuskan pada buku Pancasila, doktrin pemerintah dan propaganda politik dari Orde Baru, yang membuat TBM tidak lagi diminati masyarakat setempat, serta tidak mendapat dukungan dari mereka. Dalam makalah Community Libraries in Indonesian: A Survey of Government - Supported and Independent Reading Gardens, Stian Haklev mengungkapkan bahwa taman bacaaan masyarakat pada dasarnya dibangun oleh tiga penggagas:

a.) Taman bacaan yang dibangun oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah,
b.) Taman bacaan yang dibangun oleh donatur, misalnya dalam program Corporate Sosial Responsibility (CSR) perusahaan,
c.) Taman bacaan yang dibangun oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun komunitas masyarakat setempat.

Terlepas dari siapa penggagas berkembangnya taman bacaan masyarakat, pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama, memupuk kegemaran membaca.

Dalam UU 43, 2007 Pembudayaan Kegemaran Membaca menempati Bab tersendiri yaitu Bab XII. Sebelum membaca, hendaknya masyarakat diajak terlebih dahulu untuk membiasakan berpikir kritis (Critical Thinking). Sebenarnya hal ini merupakan tugas perpustakaan dan TBM untuk ikut menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat setempat.

Hal yang membedakan secara jelas antara perpustakaan dan TBM ialah dari segi pengorganisasian, perpustakaan menciptakan kesan formal dengan berbagai aturan, sedangkan TBM berlangsung secara informal yang terpenting ialah koleksi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Dalam UU 43, 2007 mendefinisikan pustakawan sebagai seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan atau pelatihan kepustakawanan, serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Pustakawan adalah penghubung aktif antara pemustaka dan sumberdaya informasi maupun pengetahuan. Untuk itu pustakawan harus terus memperbaharui keilmuannya. Maka Continuing Professional Development (CPD) ialah upaya mengoptimalkan diri sebagai profesional. Tidak hanya terbatas pada keprofesionalan tetapi juga mengembangkan kepribadian.

Pustakawan Indonesia yang baru akan berbeda dengan pustakawan Indonesia yang jadul. Karakter seperti apa yang kalian wujudkan adalah hak kalian. Ungkapan dari Bung Karno rasanya cocok, “Kami hanyalah mengantar generasi muda ke pintu gerbang kemerdekaan berpikir”. Perpustakaan dimaknai seperti tafsir kaum muda tidak masalah, perpustakaaan harus selalu bertransformasi seiring perkembangan zaman. Begitu kalimat yang disampaikan oleh Blasius dalam buku ini.

TBM dan perpustakaan selayaknya bekerjasama atau bersinergi menjawab kebutuhan masyarakat dan rakyat. Perpaduan sinergi akan menghasilkan kemitraan yang efektif, efisien dan berkesinambungan. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, perlu dilakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Perpustakaan dan TBM berkolaborasi mengidentifikasi problem utama yang dihadapi masyarakat setempat.

Perpustakaan Indonesia akan terus berbenah, mengikuti perkembangan zaman, perkembangan teknologi menyilaukan pandangan pustakawan Indonesia. Banyak upaya dilakukan untuk mengejar TIK, tetapi melupakan hakikat sebenarnya pustakawan dibangun untuk siapa, bukankah pustakawan itu dibangun untuk rakyat Indonesia? Semua harus dilayani tanpa membedakan pribadi. Tumbuh kebutuhan rakyat jelata untuk hidup cerdas. Kebutuhan ini harus diupayakan pemenuhannya melalui perpustakaan umum yang bersinergi dengan TBM.

Setelah dialog antara mahasiwa dan dosen, yang dalam hal ini anak dan bapak, dilanjutkan dengan sebuah tulisan yang mencerahkan. Sebuah tulisan yang terkait dengan dialog sebelumnya. Tulisan pertama menceritakan mengenai Taman Baca Masyarakat (TBM) yang berada di Yogyakarta oleh Ratih Rahmawati. Sementara tulisan kedua berjudul, “Memaknai Perpustakaan”, yang ditulis oleh Blasius Sudarsono. Dan tulisan ketiga berjudul, “Sinergi Perpustakaan dan TBM”, ditulis oleh Blasius Sudarsono dan Ratih Rahmawati. Menarik menyimak gabungan antara sebuah dialog yang kritis dengan tulisan yang membuka cakrawala berpikir. Buku berjudul, “Perpustakaan Untuk Rakyat” ini untuk menambah pengetahuan secara filosofis mengenai eksistensi Perpustakaan dan Taman Baca Masyarakat (TBM).

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan memberikan komentar menggunakan bahasa yang baku dan tanpa singkatan. Terima kasih atas perhatiannya, semoga sukses :)

 

©Copyright 2011 Aldi Rahman Untoro | TNB